Ketika pertama kalinya
merasakan begitu nikmatnya iman, mengenal ilmu syar’i
Berawal darinya, adik
kandungnya sendiri mendakwahinya sampai 4 tahun
4 tahun ? ?? ya 4
tahun bersama di sudut kota Makassar, hatinya
baru terketuk untuk lebih mengenal Islam. Bayangkan begitu kerasnya hatinya,
Beruntunglah dia
punya seorang adik muslimah yang sudah lebih dulu berhijrah ,yang tak berhenti menyerah untuk terus mendakwahinya
Walau harus berbeda
pendapat, mencucurkan air mata, diam-diaman
Hanya agar
dakwahnya sampai kehati kakanya..
Bagaimana jadinya
jika pada saat itu dia menyerah????? Dia berhenti mendakwahi kakanya
Dia mengikuti
kemauan kakanya..
Jelaslah tak akan bisa merasakan begitu lezatnya iman
Dia yang selalu
melakukan berbagai macam cara mendakwahi kakanya
Mengajaknya ke
tempat-tempat seminar yang dilaksanakan oleh aktifis dakwah kampus UNHAS
Mengajaknya ke masjid
masjid yang penuh dengan aktifitas dakwah di dalamnya
Walau hanya sekedar
membiarkannya duduk melihat muslimah-muslimah disekitar lalu lalang
Melakukan aktifitas
dakwah, disudut sana bermajelis menuntut ilmu syar’i, disudut sana belajar
mengaji, disudut sana bermusyawarah, disudut sana mengajar anak-anak jalanan,
anak anak yatim..
Bagaimana hatinya
tak mendapatkan ketenangan, bagaimana hatinya tak tersentuh
Jika setiap muslimah yang melihatnya selalu
memberikan senyum tulus dibalik wajah-wajahnya yang bersih bersinar karna air
wudhu yang selalu membasahinya, menyalaminya seperti sudah kenal lama. Dimana muslimah-muslimah
saat diluar begitu menjaga hijabnya dengan jilbab panjang hitam yang menjuntai
agar tak menarik perhatian lelaki. Sampai tak ada cela membayangkan indahnya. Tapi
saat berkumpul dengan sesama muslimah jilbab besar itu dilepas dan memakai
khimar( jilbab pendek) dengan warna favorit masing-masing.
Ya di masjid itu,
dimasjid yang paling bersejarah buatnya, Di masjid yang begitu kokoh hijabnya (kain
pembatas antara ikhwa dan akhwat) sampai tak tau bagaimana bentuk masjid ikhwa
yang ada dibalik hijab itu, siapa orang-orangnya dan apa yang mereka lakukan. di
masjid yang selalu merasakan rindu walau sudah berada ditempat itu. Karna disitulah
awal hijrahnya, di MASJID UNHAS
Di masjid inilah
merasakan apa itu tarbiyah, mengapa kita harus menuntut ilmu syar’i. apa itu
ukhuwah?
Dan di tempat
inilah mengenal sosoknya. Sosok murabbiyah pertamanya, yang mengajarkannya
ilmu syar’i, menyetor hafalan, belajar mengaji, sekali sepekan selama 2 jam bersama kelompok
tarbiyah dengan saudari-saudari muslimah dari berbagai latar belakang dan
kampus yang berbeda . Sosok Muslimah yang begitu kokoh di balik jilbabnya yang
terjulai panjang. Ternyata dia adalah aktifis kampus diberbagai organisasi, seorang
ketua BEM di kampusnya. Dan mahasiswa berprestasi di UNHAS
Terbukalah pikiran
selama ini yang selalu berpendapat kalau wanita-wanita yang berjilbab panjang,
hitam-hitam adalah manusia yang berpikiran afwan (kolot)
Disinilah pertama
kali tersadar bagaimana ibadah yang dilakukan sejak dulu, hanya sekedar
melaksanakannya.. begitu sangat berbeda rasanya saat tau ilmunya, saat tau
keutamaanya kemudian kita melaksanakan.. disitulah benar-benar kita merasakan
nikmatnya beribadah kepada Allah

