Pages

Minggu, 19 Juli 2015

HIJRAH KETIGA?!? 25 Desember 2013




25 Desember 2013!!.. lagi-lagi di sudut kota Makassar. di kamar kos samping Gedung Finisi UNM dia sedang menunggu adiknya untuk ke terminal Mallengkeri menuju Bulukumba setelah beberapa hari di Makassar mengikuti ujian tes di Unhas karna izinnya di sekolah hanya beberapa hari.

Di luar hujan deras, sambil mengisi waktu ia coba-coba buka internet mengingat tugas Murabbiyahnya tentang “Derita wanita Suriah?!! Saat search di google ia semakin penasaran dan mencoba membuka beberapa link. Baru satu artikel yang dibaca, air mata tak bisa dibendung lagi, mengalir terus tampa henti sampai ter’isak-isak. Hati tercabik-cabik, miris, sangat terpukul. Ketika wanita muslimah di Suriah begitu mempertahankan hijabnya meski dicegah dengan berbagai macam cara sampai nyawa menjadi taruhannya. Kita disini di Indonesia diberi berbagai macam kenyamanan oleh Allah, masih bisa bebas berjilbab tanpa ada yang melakukan kekerasan. Tapi kita tidak besyukur. Hanya  diperintahkan untuk berhijab kita masih menunda-nunda????? Menjadi wanita muslimah yang dicintai Allah kita masih ogah-ogahan disaat mereka disana begitu tegak di atas sunnah, begitu mempertahankan aqidah meski nyawa mereka, nyawa keluarga mereka menjadi taruhannya.

Langit seperti setuju dengan kesedihannya. Hujan tak juga reda. Tiba-tiba HP bunyi. Ternyata yang nelpon adalah bapaknya, mungkin mau menanyakan jam berapa pulangnya.
Belum juga tangisannya reda dia dikagetkan lagi dengan kabar dari bapaknya. Ada seorang pemuda yang akan melamarnya, seorang pemuda yang katanya keren, ketua Pembina, dan punya penghasilan tetap.

Diapun menanyakan namanya. Kemudian cari tau siapa dia. Dengan naluri detektif nya dia mencari tau siapa orangnya. Dan akhirnya menemukan akun FB nya. Hatinya langsung tersentak
Ternyata dialah yang selalu titip salam kepadanya lewat kakak-kakak seniornya  yang perempuan. Melihat foto-fotonya yang berkhalwat laki-laki dan perempuan ? punya geng sahabat laki-laki dan perempuan? Dengan bebasnya bercakap antara laki-laki dan perempuan sebaya. Jadi?, apa dia bisa mendakwahi keluarganya tentang konsep walimah  terpisah antara laki-laki dan perempuan, Tak ada music. Apa punya visi dan misi yang sama kedepannya.? Dan bahkan seorang aktifis HM?#@!???  Dimana tak perna cocok dengan pemikiran-pemikiran mereka yang selalu berbicara berdasarkan logika, filsafat!! sehingga mengundang perdebatan. Padahal kata Rasulullah:
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq)
Tak ingin berfikiran seperti itu tapi selalu saja darinya  timbul kata kata aneh tentang Tuhan. Padahal background mereka Islam.

Apa yang harus dia lakukan? Padahal sejak hijrah dia ingin seorang ikhwa, ikhwa yang tarbiyah, tegas diatas sunnah, mencintai Allah dan Rasulnya, mencintai Islam. Menundukkan pandangan.

Apa yang harus dia lakukan. Kedua orangtuanya sudah memberi lampu hijau. Mencoba menolak dengan cara halus tapi orangtuanya tak terima, bahkan marah dan menutup tlpnya.
Dia kemudian sholat  menenangkan diri, mengapa yang mendekat adalah orang-orang yang awam terhadap islam, dia merasa mungkin dia tak cukup baik di mata Allah sehingga menghadirkan orang-orang awam mendekatinya.
Allah  begitu mengagetkannya, Allah membuatnya yakin, tanpa berpikir panjang dia berniat memakai jilbab panjang. Disaat orangtuanya lagi marah marahnya, dia memberanikan diri memakai jilbab panjang yang dari dulu kurang disetujui oleh mamanya.

Hujanpun tak kunjung reda, tiba-tiba adik yang perempuan datang.
“ka, ayo ke terminal”
Dia pun mengutarakan keinginannya dan menceritakan pembahasan  dengan bapaknya via telpon.
“bisa antarkan saya pergi beli jilbab panjang dulu baru pulang?”
Adiknya kemudian kaget dan tak percaya. Ternyata itulah yang ditunggu-tunggu juga oleh adiknya. Menunggu proses hijrah kakanya. Alhamdulillah doa adiknya pun terkabul.
Dengan rasa senang dia menemani kakanya.
“ka, tapi diluar hujan!?
Kata kakanya. “tidak apa-apa, karna tidak ada waktu lagi, sebentar saya sudah harus pulang ke bulukumba.
Kata adiknya “ka, apa kaka berani, bapak sama mama lagi marah-marahnya disana karna penolakan kaka”
Bismillah, in syaa Allah saya siap”

Yah, jika kita mendahulukan Allah, in syaa Allah dunia akan mengikut. Percayalah!!
Dengan hujan yang begitu derasnya ia pergi ke RJA (Rumah Jahit akhwat Makassar) untuk beli jilbab, karna tak ada yang pas kemudian lanjutkan pencarian ke Cordova di abdesir. Alhamdulillah dia menemukan jilbab panjang hitam yang cocok buatnya. Jilbab satu-satunya yang akan berkibar menjalani aktifitas dakwah kampus di bulukumba.
Rasanya sangat nyaman ketika dia memakainya. Perisai panjang itu betul-betul menjaganya. Adiknya pun tak terkira senangnya. Kemudian ia pulang ke Bulukumba, dalam perjalanan ia terus saja berdoa dengan pertolongan Allah. Semoga orangtuanya bisa menerima. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia bertemu dengan kedua orangtuanya.

Akhirnya waktu itupun tiba. Sekitar jam 10 malam ia tiba dirumah dengan jilbab hitam panjangnya. Bismillah, berisalam dengan suara lantang sambil memberikan senyum cerianya, seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Ayahnya datang menyambutnya dengan senyum. Mamanya langsung mengatakan
“heh, sudah pakai jilbab panjang?
Ia, bagaimana mama cantik kan?” katanya sambil bercanda
Bapaknya dengan nada setuju lalu mengatakan “ia bagus begitu”
Ada rasa tidak setuju tergambar diwajah mamanya. Tapi karna bapaknya sudah memberi lampu hijau, mamanya otomatis ikut setuju.
Ma syaa Allah ternyata sangat berbeda jauh yang dibayangkan sebelumnya. Mereka menyambutnya dengan baik, dan tentu itu atas pertolongan Allah. Allah melembutkan hati orangtuanya.

Ini baru titik awal perjuangan. Akan ada banyak cobaan yang bisa membuat kita goyah. Teruslah mendekati majelis ilmu karna disana ada taman-taman surga. Teruslah bersama dengan orang-orang sholeh karna orang –orang sholeh akan memberi syafaat kepada kita diakhirat nanti dan kita bisa saling mengingatkan.  Semoga tetap istiqomah sampai ajal menjemput. Karna kita tidak tau apa kita akan tetap mendapat hidayah sampai kita mati?
Hijrah memang butuh pengorbanan, butuh keyakinan, butuh ilmu, butuh kekuatan dari saudari-saudari muslimah.  Dan butuh pertolongan Allah.

Tidak Cuma dia yang berjuang untuk berhijrah, ada banyak akhwat di luar sana yang punya kisah-kisah tersendiri menuju hijrahnya.