Tepat pertama kali urus SIM
(Bulukumba, 10 Januari 2013),
disitulah hijrah keduanya,
pertama kalinya memakai jilbab segitiga panjang.
Saat rok dan gamis sudah jadi
pakaian wajib
Memakai trening tetap tak
ditinggalkannya tapi ada gamis atau rok yang menutupinya. Biar bebas berjalan
kiri kanan
Saat kaos kakipun sudah jadi
pakaian wajib.
Saat melihat tamu lelaki datang
ke rumah seperti melihat hantu, dengan kilat memakai atribut lengkap (jilbab,
kaos kaki, rok) begitu indahnya menjadi muslimah
Sang Bapak pun tak menyadari
perubahannya, mungkin dipikirnya dia sudah lama berjilbab segitiga panjang di Makassar.
Padahal itu hari pertama dia memakainya
Tapi komentarnya yang singkat “yah,
lebih bagus” Telah membuatnya semakin senang
Sang mama sedikit berbeda
dengan komentarnya yang agak menyindir “Jangan kaya adikmu, yang begitu sudah
lebih dari cukup” mengingat adik nya sekarang memakai jilbab panjang
Dia hanya senyum senyum karna merasakan
sensasi yang berbeda,
kenyamanan yang sangat luar
biasa saat memakai jilbab segitiga panjang ini.
“sip deh” jawabnya kepada
mamanya yang belum terpikirkan dia akan memakai jilbab panjang nantinya
Mungkin sudah dikhawatirkan mamanya
sejak lama. Tiap kali mamanya nelpon selalu mendengar kata tarbiyah. Tarbiyah (belajar
islam secara intensif) sebuah aktifitas yang sering dilakukan adiknya.
Ada kekhawatiran dia akan
mengikuti gaya hijab adiknya.
Mungkin begitulah
kekhawatirkan rata-rata orangtua saat melihat perubahan hijab anaknya , kekhawatiran
bagaimana kerjaannya nanti, bagaimana pergaulannya dengan keluarga yang lain,
apalagi tentang jodohnya.
Padahal menjadi muslimah tak menghalangi kita untuk
beraktifitas, malah menjadikan kita lebih aktif lagi. menjadi muslimah tangguh, Bahkan menjaga kita dari
pergaulan yang tidak baik, berkhalwat (bercampur baur antara lelaki dan
perempuan), menghindarkan kita dari kerjaan yang tidak baik, dan in syaa Allah
yang mendekat hanya orang-orang baik.
Satu pekan di Bulukumba mulai
tersadar. Dia tak lagi bersama adiknya.
Tak ada lagi yang mengingatkannya
secara langsung , tak lagi bersama-sama kemajelis ilmu, tak lagi bersama-sama
hunting buku-buku islami, hunting jilbab-jilbab lucu, hunting rok rok imut,
hunting gamis-gamis keren. kali ini dia harus berjuang sendiri. Berjuang sendiri
mencari tahu majelis ilmu yang ada di Bulukumba.
Sampai terpikir “apa betul ada
tempat tarbiyah di bulukumba seperti yang ada di Makassar, apa ada juga
akhwat-akhwat Bulukumba seperti di Makassar yang disibukkan dengan aktifitas
dakwah.
Tak mungkin dia mencari
majelis ilmu bersama bapaknya, dimana sejak kecil kalau mau kesana kesini pasti
dengan bapaknya karna tak menguasai daerah Bulukumba.
Tapi kali ini berbeda, dipenghujung
tahun di tlg 30 Desember 2012 mulai belajar naik motor, dan di 1 januari 2013
disaat seluruh dunia bersuka cita menyambut tahun baru, dia berbeda sendiri. Bergembira
sendiri. Karna dihari itu untuk pertama kalinya ia bisa mengendarai motor di
jalan raya. Menemukan dunia barunya.
Tapi begitu luar biasanya skenario
Allah, selalu indah disaat yang tepat
saat lagi butuh-butuhnya,
Allah mengizinkannya untuk bisa mengendarai motor.
Terus teringat, ada surat
rekomendasi yang diurus sana sini oleh murrabiyah keduanya dan adiknya saat
dimakassar kalau di Bulukumba ternyata ada juga lembaga Muslimah yang mengurus
aktifitas-aktifitas dakwah.
Hmmmm.. bismillah, untuk
pertama kalinya berjuang sendiri mencari alamat di dalam surat ini untuk di
bawa ke Lembaga muslimah Bulukumba agar bisa tarbiyah dan punya Liqo (kelompok
tarbiyah) sendiri.
Hari itu akhirnya tiba juga
saat pertama kali menginjakkan kaki di lembaga muslimah. Yang tak perna
terpikirkan nantinya bahwa itulah nanti tempat yang sering didatanginya berkumpul
bersama saudari muslimah karna Allah.
Dimoment yang tepat saat
pengurus lembaga muslimah dakwah Bulukumba berkumpul untuk musyawarah. Dia datang
membawa surat sehingga sekretariat pada saat itu ramai dengan akhwat(saudari
muslimah yang belum menikah) dan ummahat(muslimah yang sudah punya anak).
Pertama kali masuk merasa
asing, tiba-tiba spicles melihat sosok yang keluar dari ruangan ternyata
tantenya yang bercadar. Mereka saling
memandang dan tak percaya satu sama lain bisa bertemu ditempat ini. Dan berkomentar
“ma syaa Allah, pasti om kamu sangat
senang mengetahui hal ini”
Kali ini ada rasa yang berbeda
saat bertemu, beda dengan kemarin kemarin. Mungkin karna kali ini mereka bertemu karna Allah yang sama-sama haus dengan
ilmu syar’i. itulah indahnya ukhuwa Islamiyah.
Berselang sedikit dikagetkan
lagi dengan sahabat kecilnya dari TK. Ternyata dia juga ada disni dan sudah
hijrah memakai jilbab panjang.. ma syaa Allah..akhwat sana sini lalu lalang
dengan senyumnya yang meneduhkan. dan
disitulah awal dia bertemu dengan Murabbiyah ketiga nya, sosok yang sangat menginspirasinya,
yang mengarahkannya untuk terus semangat menjadi aktifis dakwah di Bulukumba. Menjadi
pengurus di salah satu lembaga dakwah kampus yang ada di bulukumba dan menjadi
pengurus di salah satu daerah yang ada di Bulukumba.
Kali ini dia tak lagi merasa berjuang
sendiri di bulukumba. Tapi bersama akhwat akhwat bulukumba dan akhwat-akhwat
dari Makassar yang sudah pulkam karna telah menyelesaikan studinya
Bersama-sama saling
mengingatkan, saling menasehati. Bersama-sama melalukan kegiatan, menyebar
brosur, bersosialisasi dikampus-kampus dan sekolah-sekolah dengan saudari
seiman. Betapa indahnya Islam. betapa indahnya ukhuwa Islamiyah
betapa Indahnya berhijrah..!!
