Pages

Sabtu, 18 Juli 2015

HIJRAH KEDUA..?!? awal 2013



Tepat pertama kali urus SIM (Bulukumba, 10 Januari 2013),
disitulah hijrah keduanya, pertama kalinya memakai jilbab segitiga panjang.
Saat rok dan gamis sudah jadi pakaian wajib
Memakai trening tetap tak ditinggalkannya tapi ada gamis atau rok yang menutupinya. Biar bebas berjalan kiri kanan
Saat kaos kakipun sudah jadi pakaian wajib.

Saat melihat tamu lelaki datang ke rumah seperti melihat hantu, dengan kilat memakai atribut lengkap (jilbab, kaos kaki, rok) begitu indahnya menjadi muslimah

Sang Bapak pun tak menyadari perubahannya, mungkin dipikirnya dia sudah lama berjilbab segitiga panjang di Makassar. Padahal itu hari pertama dia memakainya
Tapi komentarnya yang singkat “yah, lebih bagus” Telah membuatnya semakin senang

Sang mama sedikit berbeda dengan komentarnya yang agak menyindir “Jangan kaya adikmu, yang begitu sudah lebih dari cukup” mengingat adik nya sekarang memakai jilbab panjang
Dia hanya senyum senyum karna merasakan sensasi yang berbeda,
kenyamanan yang sangat luar biasa saat memakai jilbab segitiga panjang  ini.
“sip deh” jawabnya kepada mamanya yang belum terpikirkan dia akan memakai jilbab panjang nantinya

Mungkin sudah dikhawatirkan mamanya sejak lama. Tiap kali mamanya nelpon selalu mendengar kata tarbiyah. Tarbiyah (belajar islam secara intensif) sebuah aktifitas yang sering dilakukan adiknya.
Ada kekhawatiran dia akan mengikuti gaya hijab adiknya.
Mungkin begitulah kekhawatirkan rata-rata orangtua saat melihat perubahan hijab anaknya , kekhawatiran bagaimana kerjaannya nanti, bagaimana pergaulannya dengan keluarga yang lain, apalagi tentang jodohnya.
Padahal  menjadi muslimah tak menghalangi kita untuk beraktifitas, malah menjadikan kita lebih aktif lagi. menjadi muslimah tangguh, Bahkan menjaga kita dari pergaulan yang tidak baik, berkhalwat (bercampur baur antara lelaki dan perempuan), menghindarkan kita dari kerjaan yang tidak baik, dan in syaa Allah yang mendekat hanya orang-orang baik.  
Satu pekan di Bulukumba mulai tersadar. Dia tak lagi bersama adiknya.
Tak ada lagi yang mengingatkannya secara langsung , tak lagi bersama-sama kemajelis ilmu, tak lagi bersama-sama hunting buku-buku islami, hunting jilbab-jilbab lucu, hunting rok rok imut, hunting gamis-gamis keren. kali ini dia harus berjuang sendiri. Berjuang sendiri mencari tahu majelis ilmu yang ada di Bulukumba.
Sampai terpikir “apa betul ada tempat tarbiyah di bulukumba seperti yang ada di Makassar, apa ada juga akhwat-akhwat Bulukumba seperti di Makassar yang disibukkan dengan aktifitas dakwah.
Tak mungkin dia mencari majelis ilmu bersama bapaknya, dimana sejak kecil kalau mau kesana kesini pasti dengan bapaknya karna tak menguasai daerah Bulukumba.  
Tapi kali ini berbeda, dipenghujung tahun di tlg 30 Desember 2012 mulai belajar naik motor, dan di 1 januari 2013 disaat seluruh dunia bersuka cita menyambut tahun baru, dia berbeda sendiri. Bergembira sendiri. Karna dihari itu untuk pertama kalinya ia bisa mengendarai motor di jalan raya. Menemukan dunia barunya.
Tapi begitu luar biasanya skenario Allah, selalu indah disaat yang tepat
saat lagi butuh-butuhnya, Allah mengizinkannya untuk bisa mengendarai motor.

Terus teringat, ada surat rekomendasi yang diurus sana sini oleh murrabiyah keduanya dan adiknya saat dimakassar kalau di Bulukumba ternyata ada juga lembaga Muslimah yang mengurus aktifitas-aktifitas dakwah.
Hmmmm.. bismillah, untuk pertama kalinya berjuang sendiri mencari alamat di dalam surat ini untuk di bawa ke Lembaga muslimah Bulukumba agar bisa tarbiyah dan punya Liqo (kelompok tarbiyah) sendiri.

Hari itu akhirnya tiba juga saat pertama kali menginjakkan kaki di lembaga muslimah. Yang tak perna terpikirkan nantinya bahwa itulah nanti tempat yang sering didatanginya berkumpul bersama saudari muslimah karna Allah.

Dimoment yang tepat saat pengurus lembaga muslimah dakwah Bulukumba berkumpul untuk musyawarah. Dia datang membawa surat sehingga sekretariat pada saat itu ramai dengan akhwat(saudari muslimah yang belum menikah) dan ummahat(muslimah yang sudah punya anak).

Pertama kali masuk merasa asing, tiba-tiba spicles melihat sosok yang keluar dari ruangan ternyata tantenya yang  bercadar. Mereka saling memandang dan tak percaya satu sama lain bisa bertemu ditempat ini. Dan berkomentar  “ma syaa Allah, pasti om kamu sangat senang  mengetahui hal ini”

Kali ini ada rasa yang berbeda saat bertemu, beda dengan kemarin kemarin. Mungkin karna kali ini mereka  bertemu karna Allah yang sama-sama haus dengan ilmu syar’i. itulah indahnya ukhuwa Islamiyah.

Berselang sedikit dikagetkan lagi dengan sahabat kecilnya dari TK. Ternyata dia juga ada disni dan sudah hijrah memakai jilbab panjang.. ma syaa Allah..akhwat sana sini lalu lalang dengan senyumnya yang meneduhkan.  dan disitulah awal dia bertemu dengan Murabbiyah ketiga nya, sosok yang sangat menginspirasinya, yang mengarahkannya untuk terus semangat menjadi aktifis dakwah di Bulukumba. Menjadi pengurus di salah satu lembaga dakwah kampus yang ada di bulukumba dan menjadi pengurus di salah satu daerah yang ada di Bulukumba.
Kali ini dia tak lagi merasa berjuang sendiri di bulukumba. Tapi bersama akhwat akhwat bulukumba dan akhwat-akhwat dari Makassar yang sudah pulkam karna telah menyelesaikan studinya
Bersama-sama saling mengingatkan, saling menasehati. Bersama-sama melalukan kegiatan, menyebar brosur, bersosialisasi dikampus-kampus dan sekolah-sekolah dengan saudari seiman. Betapa indahnya Islam. betapa indahnya ukhuwa Islamiyah
betapa Indahnya berhijrah..!!