Di luar hujan
deras, sambil mengisi waktu ia coba-coba buka internet mengingat tugas
Murabbiyahnya tentang “Derita wanita Suriah?!! Saat search di google ia semakin
penasaran dan mencoba membuka beberapa link. Baru satu artikel yang dibaca, air
mata tak bisa dibendung lagi, mengalir terus tampa henti sampai ter’isak-isak. Hati
tercabik-cabik, miris, sangat terpukul. Ketika wanita muslimah di Suriah begitu
mempertahankan hijabnya meski dicegah dengan berbagai macam cara sampai nyawa
menjadi taruhannya. Kita disini di Indonesia diberi berbagai macam kenyamanan
oleh Allah, masih bisa bebas berjilbab tanpa ada yang melakukan kekerasan. Tapi
kita tidak besyukur. Hanya diperintahkan
untuk berhijab kita masih menunda-nunda????? Menjadi wanita muslimah yang
dicintai Allah kita masih ogah-ogahan disaat mereka disana begitu tegak di atas
sunnah, begitu mempertahankan aqidah meski nyawa mereka, nyawa keluarga mereka
menjadi taruhannya.
Langit seperti
setuju dengan kesedihannya. Hujan tak juga reda. Tiba-tiba HP bunyi. Ternyata yang
nelpon adalah bapaknya, mungkin mau menanyakan jam berapa pulangnya.
Belum juga
tangisannya reda dia dikagetkan lagi dengan kabar dari bapaknya. Ada seorang
pemuda yang akan melamarnya, seorang pemuda yang katanya keren, ketua Pembina,
dan punya penghasilan tetap.
Diapun
menanyakan namanya. Kemudian cari tau siapa dia. Dengan naluri detektif nya dia
mencari tau siapa orangnya. Dan akhirnya menemukan akun FB nya. Hatinya langsung
tersentak
Ternyata dialah
yang selalu titip salam kepadanya lewat kakak-kakak seniornya yang perempuan. Melihat foto-fotonya yang
berkhalwat laki-laki dan perempuan ? punya geng sahabat laki-laki dan
perempuan? Dengan bebasnya bercakap antara laki-laki dan perempuan sebaya. Jadi?,
apa dia bisa mendakwahi keluarganya tentang konsep walimah terpisah antara laki-laki dan perempuan, Tak ada
music. Apa punya visi dan misi yang sama kedepannya.? Dan bahkan seorang
aktifis HM?#@!??? Dimana tak perna cocok
dengan pemikiran-pemikiran mereka yang selalu berbicara berdasarkan logika,
filsafat!! sehingga mengundang perdebatan. Padahal kata Rasulullah:
“Aku menjamin
sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan
perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq)
Tak ingin
berfikiran seperti itu tapi selalu saja darinya timbul kata kata aneh tentang Tuhan. Padahal background
mereka Islam.
Apa yang harus
dia lakukan? Padahal sejak hijrah dia ingin seorang ikhwa, ikhwa yang tarbiyah,
tegas diatas sunnah, mencintai Allah dan Rasulnya, mencintai Islam. Menundukkan
pandangan.
Apa yang
harus dia lakukan. Kedua orangtuanya sudah memberi lampu hijau. Mencoba menolak
dengan cara halus tapi orangtuanya tak terima, bahkan marah dan menutup tlpnya.
Dia kemudian
sholat menenangkan diri, mengapa yang
mendekat adalah orang-orang yang awam terhadap islam, dia merasa mungkin dia
tak cukup baik di mata Allah sehingga menghadirkan orang-orang awam
mendekatinya.
Allah begitu mengagetkannya, Allah membuatnya yakin,
tanpa berpikir panjang dia berniat memakai jilbab panjang. Disaat orangtuanya
lagi marah marahnya, dia memberanikan diri memakai jilbab panjang yang dari
dulu kurang disetujui oleh mamanya.
Hujanpun tak
kunjung reda, tiba-tiba adik yang perempuan datang.
“ka, ayo ke
terminal”
Dia pun
mengutarakan keinginannya dan menceritakan pembahasan dengan bapaknya via telpon.
“bisa
antarkan saya pergi beli jilbab panjang dulu baru pulang?”
Adiknya kemudian
kaget dan tak percaya. Ternyata itulah yang ditunggu-tunggu juga oleh adiknya. Menunggu
proses hijrah kakanya. Alhamdulillah doa adiknya pun terkabul.
Dengan rasa
senang dia menemani kakanya.
“ka, tapi
diluar hujan!?
Kata kakanya.
“tidak apa-apa, karna tidak ada waktu lagi, sebentar saya sudah harus pulang ke
bulukumba.
Kata adiknya “ka,
apa kaka berani, bapak sama mama lagi marah-marahnya disana karna penolakan
kaka”
Bismillah, in
syaa Allah saya siap”
Yah, jika
kita mendahulukan Allah, in syaa Allah dunia akan mengikut. Percayalah!!
Dengan hujan
yang begitu derasnya ia pergi ke RJA (Rumah Jahit akhwat Makassar) untuk beli
jilbab, karna tak ada yang pas kemudian lanjutkan pencarian ke Cordova di
abdesir. Alhamdulillah dia menemukan jilbab panjang hitam yang cocok buatnya. Jilbab
satu-satunya yang akan berkibar menjalani aktifitas dakwah kampus di bulukumba.
Rasanya sangat
nyaman ketika dia memakainya. Perisai panjang itu betul-betul menjaganya. Adiknya
pun tak terkira senangnya. Kemudian ia pulang ke Bulukumba, dalam perjalanan ia
terus saja berdoa dengan pertolongan Allah. Semoga orangtuanya bisa menerima. Dia
tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia bertemu dengan kedua
orangtuanya.
Akhirnya waktu
itupun tiba. Sekitar jam 10 malam ia tiba dirumah dengan jilbab hitam
panjangnya. Bismillah, berisalam dengan suara lantang sambil memberikan senyum
cerianya, seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Ayahnya datang menyambutnya
dengan senyum. Mamanya langsung mengatakan
“heh, sudah
pakai jilbab panjang?
Ia, bagaimana
mama cantik kan?” katanya sambil bercanda
Bapaknya
dengan nada setuju lalu mengatakan “ia bagus begitu”
Ada rasa
tidak setuju tergambar diwajah mamanya. Tapi karna bapaknya sudah memberi lampu
hijau, mamanya otomatis ikut setuju.
Ma syaa Allah
ternyata sangat berbeda jauh yang dibayangkan sebelumnya. Mereka menyambutnya
dengan baik, dan tentu itu atas pertolongan Allah. Allah melembutkan hati
orangtuanya.
Ini baru
titik awal perjuangan. Akan ada banyak cobaan yang bisa membuat kita goyah. Teruslah
mendekati majelis ilmu karna disana ada taman-taman surga. Teruslah bersama
dengan orang-orang sholeh karna orang –orang sholeh akan memberi syafaat kepada
kita diakhirat nanti dan kita bisa saling mengingatkan. Semoga tetap istiqomah sampai ajal menjemput. Karna
kita tidak tau apa kita akan tetap mendapat hidayah sampai kita mati?
Hijrah memang
butuh pengorbanan, butuh keyakinan, butuh ilmu, butuh kekuatan dari
saudari-saudari muslimah. Dan butuh
pertolongan Allah.
Tidak Cuma dia
yang berjuang untuk berhijrah, ada banyak akhwat di luar sana yang punya
kisah-kisah tersendiri menuju hijrahnya.


